Breaking News

Viral Dua Sejoli Sedang Bercumbu Mesra di Taman Edupark, Camat Gemolong Akui Kecolongan

SUARA DAERAH SRAGEN –Taman adalah tempat untuk idukasi ,bermain dan untuk rekreasi keluarga, namun  dinodai oleh  kejadian yang tak senonoh aksi ciuman pasangan remaja di area Taman Edupark Gemolong mendadak  viral dan menjadi sorotan publik. 

Merespons insiden yang mencoreng citra ruang publik tersebut, Camat Gemolong, Nugroho Tri Wibowo, memberikan klarifikasi sekaligus mendorong penanganan lintas pihak agar kejadian serupa tidak terus terulang. Bowo mengakui bahwa insiden bermesraan di muka umum tersebut bukan kali pertama terjadi. 

Menurut catatannya, peristiwa serupa di area Taman Edupark Gemolong setidaknya sudah dua kali mencuat. Kendati demikian, pihak kecamatan menghadapi kendala dalam melakukan penataan dan pengawasan secara langsung.

"Kewenangan pengelolaan taman itu ada di Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman Pertanahan dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen. Pagi hari memang ada petugas yang menjaga, tetapi area itu juga digunakan untuk parkir. Jadi kami di kecamatan memang tidak punya akses langsung untuk mengatur atau mengelola area tersebut," terangnya pada awak media.

Meski terkendala batasan kewenangan aset, pihaknya menyadari bahwa dampak sosial dan kemasyarakatan dari perilaku tidak terpuji tersebut tetap menjadi perhatian bersama. Karena itu, pihaknya menyuarakan pentingnya kolaborasi antara dinas terkait dengan elemen masyarakat setempat.

Di kawasan tersebut sudah ada Paguyuban Masyarakat Gemolong Asri yang rutin mengelola berbagai kegiatan. Seperti Car Free Night tiap akhir pekan. Paguyuban ini dinilai siap diterjunkan untuk membantu pengawasan jika Dinas kekurangan personel.

"Tamannya memang luas dan rindang. Kalau akhir pekan ramai, tapi kalau hari biasa sejuk dan rimbun, sering dipakai anak sekolah dan warga untuk beraktivitas. Kalau Dinas Perkim kekurangan personel, teman-teman paguyuban siap diajak kolaborasi untuk penambahan pengawasan atau petugas keamanan," ujarnya.

Ia menambahkan, celah pengawasan sering kali terjadi di area belakang taman. Kondisi rimbun dan banyaknya akses masuk  seperti pintu samping yang tidak terkontrol  dimanfaatkan oknum remaja untuk berbuat nekat, padahal lokasinya masih terlihat dari arah jalan maupun warung sekitar.

Situasi diperparah dengan belum tersedianya fasilitas Closed Circuit Television (CCTV) di area taman. Petugas dari Perkim yang bersiaga umumnya hanya berfokus di area depan tempat aktivitas warga seperti area memancing dan tempat melukis anak-anak.

Mengenai identitas sejoli dalam video atau insiden viral tersebut, pihak kecamatan menyatakan masih berkoordinasi dengan pengurus paguyuban untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.

Dari sisi pencegahan dan pembinaan remaja, pihak Muspika Gemolong selama ini aktif menyosialisasikan berbagai norma dan kedisiplinan saat turun ke sekolah-sekolah, mulai dari edukasi tertib lalu lintas hingga kampanye anti-bullying. Namun, dia tidak menampik bahwa insiden ini tetap menjadi evaluasi besar.

"Ya terus terang kita kecolongan. Kami sudah menginstruksikan teman-teman di lapangan untuk memperketat siaga. 'Ojo enek kayak ngono lah, ngisin-ngisini' (Jangan ada lagi yang seperti itu, bikin malu)," tegasnya.

Sebagai langkah konkret ke depan, Pihak Kecamatan Gemolong menyatakan siap memfasilitasi pertemuan antara Dinas dan paguyuban warga. Selain menyiagakan personel pengawasan independen, kecamatan juga berencana memasang spanduk imbauan di titik-titik rawan guna mengedukasi pengunjung agar menjaga norma kesopanan di ruang publik. 

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID