Breaking News

DLH Sragen: Stop Sampah Dari Solo, TPA Tanggan Gesi Sudah Overcapacity


SUARA DAERAH SRAGEN – Masalah pelik yang melilit Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo rupanya tak lantas membuat wilayah tetangga, seperti Kabupaten Sragen, bisa bernapas lega. Meski secara administratif berbeda, kekhawatiran akan adanya "limpahan" sampah dari Kota Bengawan ke Bumi Sukowati sempat mencuat. Namun, pintu TPA Tanggan dipastikan tertutup rapat untuk sampah dari luar daerah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen, Albert Pramono Susanto, menegaskan bahwa situasi di TPA Tanggan saat ini tidak memungkinkan untuk menerima beban tambahan. Bukan tanpa alasan, kondisi internal TPA yang berlokasi di Kecamatan Gesi itu sendiri sudah berada di ambang batas alias overcapacity.

"Tidak, Kami belum berinteraksi atau terlibat dengan apa yang terjadi di TPA Putri Cempo. Saat ini, fokus kami adalah mengelola sampah kami sendiri yang posisinya sudah hampir penuh," ujar Albert saat dikonfirmasi terkait kemungkinan Sragen membantu menampung sampah Solo Jumat (13/2/2026) 

Albert membeberkan angka yang cukup mencengangkan. Setiap harinya, TPA Tanggan harus menelan kiriman sampah antara 100 hingga 150 ton. Dengan volume sebesar itu, ruang yang tersisa di TPA Tanggan semakin menipis. Jika dipaksakan menerima kiriman dari daerah lain, dikhawatirkan Sragen justru akan terperosok ke dalam lubang masalah yang sama dengan Putri Cempo.

"Enggak bisa, menampung kiriman lain. Untuk ngelola sampah kita sendiri saja sudah berat," tambahnya. dengan nada tegasnya. 

Belajar dari "tsunami" sampah di daerah tetangga yang dipicu kerusakan alat berat dan penumpukan yang tak terkendali, DLH Sragen kini memilih jalur preventif. Albert menekankan pentingnya pengolahan sampah sejak dari dapur rumah tangga.
Strategi utamanya adalah mengoptimalkan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan Tempat Sampah Terpadu (TPST). 

Tujuannya agar sampah yang sampai ke TPA Tanggan hanyalah residu yang memang tidak bisa diolah lagi. "Kami berusaha membangun kesadaran masyarakat. Harapannya, sampah dikurangi sebelum masuk ke TPA," jelasnya.

Namun, ia mengakui jalan menuju pengelolaan ideal ini masih belum ideal. Evaluasi terus dilakukan, terutama pada TPS 3R yang dikelola langsung oleh masyarakat. Menurut Albert, partisipasi warga seringkali pasang surut jika tidak diberikan stimulan atau pembinaan yang rutin.

"Masyarakat kadang kalau kurang stimulan, jalannya kurang maksimal. Makanya, kami akan terus lakukan pembinaan agar pengelolaan di hulu benar-benar jalan," pungkasnya.

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID