Breaking News

TPA Tanggan Kapasitas Tembus 90 Persen, DLH Sragen Tegas Tolak Sampah dari Solo

SUARA DAERAH SRAGEN — Bayangan hitam insiden kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo di Solo rupanya menjadi alarm serius bagi Kabupaten Sragen. Di tengah ancaman musim kemarau yang rentan memicu bara api, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen langsung memperketat benteng pertahanan TPA Tanggan agar terhindar dari bencana serupa.

Kepala DLH Sragen, Albert Pramono Susanto, menegaskan bahwa pihaknya menutup rapat pintu bagi kiriman sampah dari luar daerah, termasuk wacana menampung limpahan beban pascakebakaran di wilayah tetangga. 

"Kalau sampah lintas wilayah itu tidak bisa, sudah ada aturannya. Kita tidak bisa menerima sampah dari luar daerah," tegas Albert saat dihubungi Kamis (3/9/2026)

Dia menjelaskan, skema lintas kabupaten mensyaratkan adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) resmi. Sejauh ini, jangankan kerja sama baru, perbincangan atau ikatan administratif terkait hal itu dipastikan sama sekali belum ada.

Kebijakan penolakan ini bukan tanpa alasan. Beban perut TPA Tanggan saat ini sudah tergolong mengkhawatirkan. Dengan luas efektif zona aktif sekitar 5 hektare, kapasitas tampung TPA tersebut telah menyentuh angka 90 persen. Setiap harinya, roda truk pengangkut tiada henti memuntahkan muatan sampah domestik warga Sragen dengan volume rata-rata mencapai 100 ton per hari.

Guna mencegah daya tampung benar-benar kolaps, DLH Sragen bergerak cepat menyiapkan langkah ekspansi. "Kita sedang mempersiapkan perluasan sekitar 5.000 meter persegi untuk menambah daya tampung di TPA Tanggan," ungkapnya.

Selain isu kapasitas, momok terbesar di musim kemarau adalah ancaman gas metana yang memicu titik api. Albert memastikan pihaknya menerapkan strategi mitigasi ketat dengan meninggalkan metode pembuangan terbuka (open dumping).

Di TPA Tanggan, petugas menerapkan sistem semi-controlled landfill. Polanya, tumpukan sampah yang telah dipadatkan secara berkala—antara satu hingga dua minggu sekali—akan langsung ditimbun dengan lapisan tanah. Langkah ini dinilai efektif memangkas area terbuka yang mudah kering dan tersulut panas matahari.

Tak hanya itu, koordinasi lintas instansi juga dihidupkan. DLH menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen untuk memperketat pemantauan titik api, serta mengandalkan ketersediaan sumur air lokal di area TPA sebagai langkah darurat ketersediaan pasokan air.

Di sisi lain, solidaritas regional dalam penanganan musibah kebakaran di TPA Putri Cempo sebelumnya juga sempat melibatkan personel dari Bumi Sukowati. Kepala Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Sragen, Tomy Isharyanto mengungkapkan bahwa pihaknya sempat menerjunkan armada dan personel untuk membantu proses pemadaman di lokasi tersebut.

"Kami menerjunkan 1 unit armada beserta 3 personel. Alhamdulillah, tim sudah kembali ke Sragen jam 06.30 pagi tadi," jelas Tomy.

Meski insiden di Solo sempat mencuri perhatian publik regional, DLH Sragen memastikan peristiwa tersebut tidak berdampak langsung terhadap operasional pengolahan sampah di wilayahnya. Fokus utama tetap dipatok pada satu titik, mengamankan pengelolaan sampah domestik warga Sragen agar tetap terkendali dan jauh dari malapetaka lingkungan. 

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID