Breaking News

PROF DR SUTAN NASOMAL : LANTAI ISTANA SEMAKIN LICIN OLEH LIUR PARA PENJILAT DAN ALERGI DENGAN SUARA RAKYAT INDONESIA

Jakarta, Dilematis Suhu Politik di Indonesia mulai memanas para tokoh lintas partai mulai bergerak masyarakat Indonesia sangat sangat berharap ke depan dinegara RI akan muncul pemimpin pemimpin baik Presiden Menteri Gubernur Bupati Walikota yang memiliki keberpihakan kepada rakyat di berbagai link dirasakan rakyat secara keseluruhan " Ujar Prof Sutan Nasomal SH MH Tokoh Pemerhati Masyarakat Dunia Pakar Hukum Internasional, Ekonom Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID) menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak onlen dalam luar negeri berkaitan dengan perubahan suhu politik yang memanas hingga 100 derajat dikantornya Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka dibilangan Cijantung Jakarta 13/9/2026 via telpon selulernya.

Tidak pekanya para pemangku kekuasaan saat ini dengan adanya bayangan matahari kembar bukanlah issu saja. Reaksi memanasnya politik menjelang pemilu 2029 sudah di mulai dari pertengahan tahun 2026.

Bahkan tidak malu malu lagi dalam rapat internal menyampaikan rencana menggulingkan presiden yang saat ini memimpin secara terbuka. Membuat panas hati para pendukungnya kemudian saling mengancam melalui telegram politik. Prof DR Sutan Nasomal menyampaikan agar hati hati rakyat kecil jangan terpancing atau terbawa arus. Aduan dari masyarakat dari kesulitan di semua bidang usaha dan kehidupan saat ini karena tidak cerdasnya para pemegang perahu NKRI. Hal ini diperhatikan oleh semua pakar dan guru besar ilmu hukum. Prof DR Sutan Nasomal memberikan pendapatnya melalui media.

Pintu pendopo para elit partai mulai membuka pintu lebar lebar dengan atraksi baru dengan istilah sowan ke rumah pengantin calon presiden untuk 2029 kemudian dipertontonkan ke rakyat yang lagi susah serta keder agar hari ini bisa menyambung hidup, bahwa setiap rumah para pengantin calon presiden di 2029 sudah bagi bagi janji dan gelar peta politik. Suara sunyi didalamnya tetap saja terbawa angin sehingga pemilik ratusan juta telinga di Nusantara ini terkejut dan kecewa. Siapa yang memikirkan nasib rakyat susah di negri ini.

Prof DR Sutan Nasomal SH,MH sebagai pemerhati masyarakat ikut menyaksikan : Aksi masa demo damai yang meminta kebijakan sederhana menjadi hal yang sulit di kabulkan. Mahalnya sembako menginjak perut orang kecil yang semakin terlilit hutang untuk bisa makan sepiring nasi hari ini. Apakah ini dampak dari mahalnya ongkos politik sehingga untuk bisa bertahan hidup masyarakat kecil saja sangat sulit. Masyarakat tetap berpenghasilan kecil di antara meroketnya harga harga.

Beban berat dipukulkan ke pundak orang kecil dengan akrobat politik kejam dengan cara cara licik di balik pintu birokrasi yang semakin menjelimet dan harus berani bayar uang pelicin ke banyak oknum dinas yang berhubungan dengan kepentingan online dipusat dan daerah. Sehingga banyak yang mandek perijinan untuk membuat ijin usaha atau pindah alamat karena mahar pelicin harus disetorkan. Maka tercipta kebangkrutan dimana mana akibat gagal pemerintah saat ini mempermudah masyarakat membangun usaha mandiri kecil kecilan akibat sistem online yang ada nilai maharnya.

Kasak kusuk di masing masing kepala daerah lain lagi kebijakannya untuk mendapatkan KAS daerah. Dari merampas motor orang miskin yang tidak mampu untuk bayar pajak atau mengincar pedagang warung pemodal kecil agar wajib bayar pajak daerah. Padahal bayar kontrakan atau bayar listriknya terpaksa berhutang dulu ke Bank Emok (Bank keliling Pinjaman Kecil). Fakta sangat sulitnya mencari uang.

Desil 9 (Golongan berpenghasilan besar) menyasar ke data para tukang becak, Kuli pacul, Lansia jompo atau tukang pulung dimana mana. Kesalahan pencatatan data atau berhemat anggaran tujuannya agar tidak membebankan KAS Daerah dari salah pendataan saat ini. 
Kok alasan pendataan selalu tidak akurat di jadikan alasan. Prof DR Sutan Nasomal SH,MH menjadi heran. Padahal selalu ada sensus penduduk dan sensus ekonomi. Mungkin data yang sebenarnya tak pernah sampai ke meja para pemimpin, agar selalu bisa menjadi alasan bahwa rakyat miskin jumlahnya berkurang atau semakin banyak yang kaya mendadak dan tidak sama dengan data yang di miliki pemerhati dari lembaga dunia.

Ketika keluhan dari rakyat kecil di tuliskan dan hendak disampaikan ke istana negara, Ubinnya sangat licin oleh liur para penjilat dan tidak boleh kertas dari rakyat ini sampai di meja yang punya kekuasaan. 

Prof DR Sutan Nasomal SH,MH mengingatkan untuk semua masyarakat. Berdoalah kepada Tuhan yang tidak pernah tidur dan lantainya tidak pernah licin, sehingga doa dari rakyat pasti di terima dan di ijabah.

Narasumber : Prof DR Sutan Nasomal SH,MH
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID