SUARA DAERAH SRAGEN — Rumah lansia sebatang kara ambruk karena lapuk : Nasib naas menimpa Mbah Sutiyem, lansia berusia 83 tahun warga Dukuh Dimoro RT 17, Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Perempuan sepuh yang sehari-hari tinggal seorang diri itu ditemukan meninggal dunia setelah rumah berbahan konstruksi bambu yang ditinggalinya ambruk total pada Senin (14/9/2026) siang sekira pukul 13.00 WIB.
Ambruknya rumah bambu tersebut murni dipicu struktur bangunan yang sudah rapuh termakan usia, bukan karena terpaan angin kencang atau cuaca ekstrem.
"Kondisi bangunan memang sudah tua, berupa rumah gedheg dan berdiri di atas tanah pinjaman. Ambruk murni karena material kayu dan bambunya sudah rapuh termakan usia," terang Kapolsek Gondang, AKP Suparno, mewakili Kapolres Sragen saat dikonfirmasi.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus keprihatinan bagi warga sekitar. Sebab, secara kondisi ekonomi keluarga, Mbah Sutiyem sebenarnya tergolong berkecukupan. Cucu-cucunya tersebar di berbagai daerah, bahkan ada yang sukses menjadi pengusaha di Jakarta hingga bekerja di Jepang.
Pihak Pemerintah Desa, keluarga, hingga tetangga sekitar mengaku sudah berulang kali membujuk lansia mandiri tersebut agar bersedia pindah dan merawat masa tuanya bersama anak atau cucunya. Namun, Mbah Sutiyem selalu menolak secara halus dan memilih bertahan di rumah bambunya.
Kepala Desa Kaliwedi, Daryono, mengonfirmasi kekehnya almarhumah untuk tetap bertahan di rumah magersari bangunan yang berdiri di atas lahan milik warga lain bernama Sutarno tersebut.
"Sebenarnya mau dievakuasi atau diajak tinggal di tempat anak maupun cucunya, beliau tidak mau. Padahal cucunya ada yang di Jepang, ada yang jadi pengusaha di Jakarta. Tapi beliaunya memang kekeh tidak mau dipindah," ungkap Daryono.
Karena tidak ingin berpindah tempat, warga setempat dan pengurus RT kerap bergotong royong dan berswadaya tiap tahun untuk merawat serta memperbaiki rumah bambu Mbah Sutiyem agar tetap layak dan aman dihuni.
Daryono menambahkan, terkait jaminan sosial, Mbah Sutiyem terdaftar aktif sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) serta bantuan pangan rutin dari pemerintah daerah maupun desa. Untuk kebutuhan sehari-hari, almarhumah juga terus disokong oleh anak cucunya.
Namun, status lahan yang menumpang membuat rumah tersebut tidak bisa diajukan masuk dalam program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) resmi dari pemerintah, sehingga pemeliharaannya selama ini murni bergantung pada swadaya warga.
Jurnalis Wahono

Social Header