SUARA DAERAH SRAGEN — Angin segar berhembus di tubuh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Sragen. Di bawah kepemimpinan nahkoda baru, Joko Pramono, organisasi wadah pengusaha muda ini siap mengambil peran sentral sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menggerakkan roda perekonomian Bumi Sukowati.
Dalam momentum pelantikannya, pria yang akrab disapa Joko ini menyampaikan rasa syukur bercampur tanggung jawab besar yang diembannya. Bagi dia, amanah kepemimpinan ini bukan sekadar jabatan seremonial, melainkan panggilan nyata untuk membawa para pengusaha muda Sragen naik kelas di tengah berbagai tantangan ekonomi.
"Kalau dilantik itu justru sebagai amanah yang harus kita bawa. Jadi memang antara senang sama melaksanakan tugas itu juga menjadi beban tersendiri, tapi ini adalah tanggung jawab yang harus diemban bersama," ungkap Joko.
Menanggapi guliran program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sragen, HIPMI menilai program tersebut memiliki dua sisi mata uang yang patut dicermati secara objektif oleh para pelaku usaha. Di satu sisi, MBG sukses mendongkrak perputaran ekonomi mikro hingga tingkat pedesaan. Namun di sisi lain, pengawalan ketat dan evaluasi berkala tetap diperlukan.
"MBG di sisi lain bagus karena ekonomi desa jadi terangkat. Tapi banyak evaluasi-evaluasi yang selama ini juga sudah diketahui bersama oleh teman-teman pelaku usaha, bagaimana tata kelola dan sinkronisasinya di lapangan," papar Joko.
Sedangkan di tengah dinamika ekonomi global yang kerap dirisaukan banyak pihak, Joko memiliki sudut pandang yang lebih optimis namun tetap realistis. Ia menepis anggapan pesimistis bahwa kelesuan ekonomi global mematikan total ruang gerak bisnis lokal. Menurutnya, fluktuasi dalam dunia usaha adalah hal yang lumrah terjadi.
"Banyak orang hari ini bilang ekonomi lagi berat, bahkan perbankan mencatat fenomena makan tabungan. Tapi dari sudut pandang pengusaha, turun dan naik itu biasa. Kadang hari ini ada teman-teman yang turun, tapi di sisi lain ada pula usaha yang naik. Bagi kami, ini adalah pergeseran siklus perputaran uang saja," jelasnya.
Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa tantangan terbesar para pengusaha muda saat ini bersumber dari pergeseran daya beli masyarakat dan perubahan gaya hidup. Fenomena standar hidup di media sosial kerap membuat ekspektasi masyarakat melampaui kemampuan riil finansial mereka.
"Masyarakat harus sadar diri antara kemampuan dan keinginan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Mensegerakan keselarasan antara kemampuan dan ekspektasi ini yang hari ini menjadi PR bersama kita," tambahnya.
Sementara Wakil Bupati Sragen, Suroto, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) atas kontribusinya dalam mendukung perekonomian di Kabupaten Sragen. Menurut Suroto, keberadaan para pengusaha di Sragen khususnya di Kecamatan Masaran telah membawa nama besar kabupaten hingga kancah regional maupun nasional. Berbagai sektor mulai dari pertanian, UMKM, garmen, konveksi, hingga perabotan kayu dinilai telah berkembang pesat.
"Banyak sekali pengusaha-pengusaha, entah itu besar, kecil, UMKM, dan sebagainya yang membawa nama besar Kabupaten Sragen," ujar Suroto.
Ia berharap kepengurusan HIPMI periode 2026–2029 dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam memotivasi dan membawa UMKM lokal untuk naik kelas. Diharapkan mampu mendukung iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Jurnalis Wahono

Social Header