Breaking News

Darurat WKO! Invasi Ikan Sapu-Sapu Bikin Nelayan Putus Asa, Alat Tangkap Rusak Parah

SUARA DAERAH SRAGEN — Kawasan perairan Waduk Kedung Ombo (WKO), khususnya di Desa Gilirejo Lama, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, mendadak mencekam bagi para pencari rezeki air. Dalam dua tahun terakhir, habitat nelayan tangkap dan petani ikan keramba jaring apung (KJA) diguncang oleh teror ledakan populasi ikan sapu-sapu.

Spesies invasif yang dikenal tangguh dan rakus ini kini menjelma menjadi musuh utama warga. Alih-alih meraup ikan konsumsi bernilai tinggi, jaring para nelayan justru kerap dipenuhi oleh kawanan ikan sapu-sapu.
Dampaknya tentu saja tidak main-main. Rantai ekonomi warga sekitar kini berada di ambang nestapa akibat hantaman kerugian operasional yang kian membengkak.

Penderitaan ini dirasakan langsung oleh Riyanto, seorang petani ikan asal dukuh Sendangrejo, Desa Gilirejo Lama. Dengan nada geram bercampur pasrah, ia membeberkan betapa ganasnya dampak kehadiran ikan berzirah keras tersebut di perairan WKO.

"Masalah kerugian itu banyak warga nelayan, Pak. Satu, biasanya nangkap dapatnya, ternyata sapu-sapu. Nah, itu merusak alat jaring. Jaring begitu ketangkap, bukan bisa dilepas, tapi mainnya dipotong. Jadi alatnya rusak dan nambah biaya," ungkap Riyanto. 

Bagi nelayan kecil seperti Riyanto, memotong jaring demi melepaskan seekor ikan sapu-sapu sama artinya dengan merobek lembaran uang. Frekuensi kejadian yang terus berulang, hingga membuat modal kerja mereka terkuras habis hanya untuk menambal atau membeli jaring baru.

DPRD Pasang Badan, Siapkan Solusi Konkret
Mendengar jeritan warganya, jajaran legislatif Kabupaten Sragen tidak tinggal diam. Anggota DPRD Sragen, Nugroho Sulistyo, langsung mengambil langkah taktis dengan memfasilitasi audiensi antara perwakilan nelayan dan dinas terkait guna membedah akar masalah hingga tuntas.

"Kita prihatin masalah ikan sapu-sapu juga sampai berdampak pada ekonomi warga Sragen. Kita fasilitasi dan temukan dengan dinas terkait untuk mencari solusi yang pas, termasuk anggaran yang sekitarnya diperlukan," tegas Nugroho.

Menurutnya, kunci utama untuk meredam amukan hama ini adalah kekompakan para pencari ikan di WKO. Sinergi yang solid antara nelayan dan pemerintah diyakini bakal membuat penanganan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Di sisi lain, secercah harapan mulai disuarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Sragen. Di tangan para ahli, ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap sebagai "sampah air" ternyata menyimpan potensi emas yang belum tergarap maksimal.

Ketua Tim Perikanan Tangkap Bidang Perikanan DKP3 Sragen, drh. Puri Hidayani, membeberkan formula ajaib untuk merubah hama penghancur jaring ini menjadi pundi-pundi rupiah melalui Pupuk Organik Cair (POC).

"Potensi banget untuk pupuk cair (POC). Bikinnya sederhana, gampang aplikasinya. Ikan sapu-sapu dicacah kecil, lalu kita fermentasikan memakai EM4 dan molase selama tiga minggu," jelas drh. Puri.

Ia memastikan proses pembuatan pupuk organik ini sangat efisien dan ramah kantong tanpa memerlukan teknologi mesin yang mahal. Menariknya lagi, hasil fermentasi racikan ini diklaim tidak berbau menyengat, melainkan beraroma asam segar yang siap diaplikasikan langsung ke lahan pertanian warga.

"Setelah disaring, pupuk tersebut siap digunakan, misalnya untuk tanaman jagung saat air WKO sedang surut," imbuhnya. 

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID