Breaking News

DPC PDI Perjuangan Sragen Gelar Refleksi Peristiwa Kudatuli, Tegaskan Peran Vital Pers dalam Mengawal Demokrasi

SUARA DAERAH SRAGEN — Nuansa haru sekaligus membakar semangat menyelimuti markas DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sragen, Senin (27/7/2026) malam. Memperingati 28 tahun peristiwa kelam Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 1996, partai berlambang banteng moncong putih tersebut menggelar malam refleksi sejarah yang dikemas apik lewat pameran foto, kliping pers jadul, hingga ruang diskusi lintas generasi.

Acara yang menghadirkan politisi senior era 90-an, kader Gen Z, aktivis GMNI, hingga pengurus PAC ini bukan sekadar nostalgia kelam. Lebih dari itu, Kudatuli dijadikan momentum emas untuk memompa kembali militansi kader sekaligus menggemakan pentingnya menjaga demokrasi di atas rel konstitusi.

Ketua DPC PDI Perjuangan Sragen, Untung Wibowo Sukawati, menegaskan bahwa Kudatuli adalah cermin besar bagi seluruh kader agar tidak melupakan akar perjuangan. Di tengah tekanan rezim Orde Baru kala itu, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri memberikan teladan krusial: melawan represi tanpa kekerasan, melainkan lewat jalur hukum dan pertarungan konstitusional.

"Peristiwa Kudatuli jangan sampai terulang kembali. Ini melecut kita semua untuk memahami bahwa sejarah PDI Perjuangan itu sangat panjang dan penuh rintangan," tegas pria yang akrab disapa Mas Bowo tersebut. "Ibu Megawati memberi teladan bagi kami untuk tetap di jalur konstitusional. Sikap itu yang wajib kita jaga dalam berdemokrasi hari ini," lanjutnya.

Di balik pameran dokumentasi dan arsip berita masa lalu yang dipajang di lokasi, Bowo memberikan catatan khusus mengenai peran sentral pers. Menurutnya, sejarah perjuangan demokrasi dan peristiwa Kudatuli bisa terus diingat serta dipelajari generasi muda hari ini berkat keberanian media massa yang mencatat setiap jengkal peristiwa secara objektif.

Di era modern yang kerap disesaki arus informasi bohong (hoax) dan disinformasi di media sosial, Mas Bowo menilai peran media massa yang kredibel menjadi jauh lebih vital. Media bukan sekadar mencatat sejarah, tetapi juga benteng pertahanan demokrasi agar proses politik bangsa tetap berada di jalur yang sehat dan teruji kebenarannya.

"Produk pers yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan adalah kunci. Di tengah kepungan hoax saat ini, peran pers sangat vital untuk mengawal proses berdemokrasi dan merawat ingatan sejarah bangsa," tandasnya.

Melalui testimoni para politisi senior yang pernah merasakan langsung represi politik era 90-an, pesan perjuangan tersebut ditularkan secara estafet kepada para kader Gen Z. DPC PDI Perjuangan Sragen berharap refleksi ini melahirkan generasi penerus yang tidak hanya militan, tetapi juga makin dewasa dan matang dalam berdemokrasi.

Jurnal Wahyono
Editor : Nofis
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID