SUARA DAERAH SRAGEN — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen menggelar Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) bersama tim pengkaji, akademisi, dan komunitas pegiat sejarah untuk mengupas serta mengidentifikasi jejak-jejak perjuangan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) di wilayah Bumi Sukowati.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Ariawan, menjelaskan bahwa kegiatan FGD ini menjadi langkah penting untuk melengkapi data-data lapangan yang telah dikumpulkan. Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan katalog serta dokumen komprehensif mengenai jejak Pangeran Mangkubumi dan warisan budayanya.
"Hasil kajian ini nantinya bisa menjadi sumber inspirasi bagi pegiat sejarah, seniman, hingga kalangan pendidik. Selain dapat dikembangkan menjadi karya seni pertunjukan dan sastra, data ini juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan pembelajaran luar kelas (outing class) bagi para siswa," ujar Johny Jumat (9/10/2026)
Sementara itu, Filolog Bayun Marsiwi mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusuran berbagai naskah kuno—seperti Babad Tanah Jawi, Babad Giyanti, Babad Panambangan, dan Babad Kemalon—tercatat ada lebih dari 40 hingga 60 titik lokasi yang tersebar di 13 kecamatan dan 28 desa di Kabupaten Sragen yang berkaitan dengan perjalanan Pangeran Mangkubumi antara tahun 1746 hingga 1755.
"Lokasi-lokasi perasingan atau persinggahan tersebut umumnya berada di sepanjang aliran sungai serta daerah yang terisolasi dan sulit dijangkau oleh musuh pada masa perang gerilya," terang Bayun.
Di sisi lain, Tri Rahayu selaku pegiat dari komunitas Pastika menyoroti pentingnya pelestarian dan penataan lokasi-lokasi sejarah tersebut. Mengingat sebagian besar kondisi situs masih alami, seperti di Jekawal maupun Ngrancang Kencana, diperlukan langkah nyata seperti pemasangan plakat penanda sejarah. Beberapa tempat seperti situs Sendang Sumberan bahkan telah dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai ruang ritual budaya bersih desa.
Melalui pendataan dan penataan yang berkelanjutan, potensi sejarah yang ada di tiap desa ini diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian cagar budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya berbasis pemberdayaan masyarakat lokal. ( Wah SD )

Social Header