Breaking News

Kisah Pilu Mbah Ngadiyem : 16 Tahun "Terlupakan Negara" Akibat Kartu Bansos Ditarik Perangkat Desa

SUARA DAERAH SRAGEN — Program pengentasan kemiskinan menjadi program unggulan pasangan  Sigit  Pamungkas - Suroto yang dalam hampir dua tahun ini Pemerintah Daerah Sragen telah melakukan langkah nyata untuk pengentasan kemiskinan di Bumi Sukowati.

Namun ada sebuah kisah disebuah rumah sempit berukuran 5x7 meter di RT 10 Desa Katelan, Kecamatan Tangen, Mbah Ngadiyem, 77, menghabiskan masa tuanya dalam kesunyian. Lansia sebatang kara ini kini hanya bisa terbaring di atas kasur lusuh, tak lagi mampu mengenali orang-orang di sekitarnya karena digerogoti usia.

Namun, kisah pilu Mbah Ngadiyem bukan sekadar tentang kemiskinan dan keterbatasan fisik. Ada ironi besar di balik nasib apes yang menimpanya selama nyaris dua dekade. Sejak tahun 2010 hingga kini di tahun 2026, Mbah Ngadiyem tak pernah lagi tersentuh bantuan sosial (bansos) apa pun dari pemerintah.

Usut punya usut, musibah penundaan hak bansos itu bermula saat Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) milik Mbah Ngadiyem diminta oleh oknum perangkat Desa Katelan bernama Yudha pada tahun 2010 an silam. Alasan kala itu, nomor identitas pada kartu tidak sesuai dengan NIK KTP dan harus dibetulkan.

Sayangnya, niat membetulkan data itu bak menelan kartu tersebut ke dalam bumi. Hingga 16 tahun berlalu, kartu bansos milik Mbah Ngadiyem tak kunjung kembali, melayang tanpa kejelasan. Saat dicek di aplikasi perimbangan bansos terkini pun, nama Mbah Ngadiyem bahkan belum masuk ke dalam tingkatan desil penerima manfaat.

Beruntung, di tengah ketidakadilan yang menimpanya, Mbah Ngadiyem masih memiliki Lasiyem 52 tahun  sang menantu yang dengan setia dan sabar merawatnya selama hampir 8 tahun terakhir.

Nasib Lasiyem tak kalah merana. Sepeninggal suaminya, ia hidup sebagai janda miskin yang juga luput dari daftar penerima bantuan pemerintah. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Mbah Ngadiyem, Lasiyem merawat mertuanya dengan segala keterbatasan yang ada.

"Saya merawat Ibu mertua semampu saya, seadanya. Ibu memang tidur di rumah petak itu, pintunya terpaksa saya kunci dari luar karena takut Beliau keluar dan pergi entah ke mana, kondisinya sudah pikun karena usia," tutur  Lasiyem mengelus dada.

Lasiyem mengingat jelas momen ketika kartu bansos mertuanya diangkut belasan tahun lalu. "Seingat saya dulu dapat kartu bantuan, katanya nomor KTP tidak sama. Lalu kartu diminta oleh Pak Yudha perangkat Desa Katelan. Tapi sampai sekarang tidak pernah dikembalikan, dan Ibu tidak pernah dapat bantuan apa-apa lagi," tambahnya.

Untuk bertahan hidup belakangan ini, Lasiyem mengaku hanya mengandalkan belas kasihan dan keberuntungan. Terakhir, ia sempat menerima beras bantuan sebanyak 30 kg, itu pun merupakan operan atau jatah atas nama orang lain.

Saat ditanya mengenai jaminan masa depan dan pangan mertuanya besok,  Lasiyem hanya bisa menggeleng pasrah. Ia tak pernah tahu apakah esok hari masih ada uluran tangan yang menyapa rumah kecil mereka.( Wah/SD )
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID