SUARA DAERAH SRAGEN –Setelah melakukan kegiatan Baksos di Desa Ngrombo dan Desa Katelan Kecamatan Tangen,
Langkah awal AKBP Heru Antariksa Cahya dalam memimpin Mapolres Sragen diwarnai safari silaturahmi ke sejumlah tokoh agama dan ulama karismatik di Bumi Sukowati, Rabu (21/10/2026). Selain memohon doa restu, kegiatan ini digelar guna memperkuat sinergi demi menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Rangkaian silaturahmi salah satunya di Ponpes Nurul Huda, Dukuh/Desa Plosorejo, Kecamatan Gondang, dengan menemui pengasuh ponpes setempat, KH. Syarif Hidayatullah atau yang akrab disapa Abah Syarif.
AKBP Heru Antariksa menegaskan, silaturahmi lintas tokoh ini merupakan tradisi kuring sekaligus pijakan awal kepemimpinannya di Sragen. Ia menyadari sepenuhnya bahwa korps Bhayangkara tidak bisa berdiri sendiri dalam mengawal kondusifitas wilayah.
"Ini langkah awal saya setelah diberi amanah sebagai Kapolres Sragen. Tentunya kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami bersilaturahmi kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen demi membangun sinergi, kolaborasi, serta memohon doa agar pelaksanaan tugas menjaga kamtibmas berjalan maksimal," ujar Heru usai pertemuan di Gondang.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan di Ponpes Nurul Huda. Heru mengaku merasa begitu dekat secara emosional saat berdialog langsung dengan Abah Syarif.
"Rasanya seperti berkunjung ke orang tua sendiri. Secara kultur, latar belakang tumbuh kembang saya mirip dengan daerah sini. Jadi tadi saat sowan ke Abah Syarif, chemistry-nya dapat banget, bak anak yang mengadu ke orang tua," ungkapnya hangat.
Sementara itu, Abah Syarif menyambut terbuka kepemimpinan baru di jajaran Polres Sragen. Dalam dialog yang lugas namun kaya makna, pengasuh Ponpes Nurul Huda ini menyelipkan pesan mendalam terkait relasi antara pimpinan daerah dan tokoh agama.
Menggunakan analogi, Abah Syarif mengingatkan pentingnya peran yang saling melengkapi demi keselamatan daerah.
"Ilmunya polisi dengan ilmunya rakyat itu harus bisa cair. Jangan sampai ilmu ulama tersumbat ke pejabat, atau sebaliknya. Seharusnya kemitraan negara itu analoginya sederhana: pejabat itu yang ngegas, nah ulama itu yang ngerem," tutur Abah Syarif lugas.
Tak hanya itu, Abah Syarif juga mewanti-wanti agar ulama tetap memegang teguh integritas moral dan tidak gampang terkooptasi oleh kekuasaan demi marwah amar ma'ruf nahi mungkar.
"Ulama jangan sampai jadi penjilat. Kalau itu terjadi, amar ma'ruf hilang, nahi mungkar hilang, dan esensi jihad pun pupus. Jihad yang sebenarnya itu berani dan mampu mengorbankan tenaga, harta, bahkan nyawa demi agama, bangsa, dan negara," tegasnya. ( WahSD)

Social Header