Breaking News

Sedekah Bumi Desa Bedoro : Sebagai Tradisi Menjaga Hasil Panen dan Merawat Warisan Leluhur


SUARA DAERAH SRAGEN —Ritual setelah panen atau tradisi sedekah Bumi secara umum dilakukan oleh warga di wilayah masing-masing desa, Desa Katelan Kecamatan Tangen sedekah bumi namanya Kantetan di Desa Mlale Kecamatan Jenar namanya jembulan, di Desa Bedoro, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, bukan sekadar perayaan syukur atas hasil panen yang melimpah. Di balik semarak kirab hasil bumi dan alunan hiburan rakyat, tersimpan cerita mistis dan keyakinan spiritual yang kuat di kalangan warga setempat, khususnya terkait perlindungan lahan pertanian dari serangan hama.

Kepala Desa Bedoro, Pri Hartono, mengungkapkan bahwa tradisi turun-temurun ini memiliki kaitan erat dengan keselamatan desa dari berbagai marabahaya. Menurutnya, selama ritual sedekah bumi rutin dilaksanakan, masyarakat merasakan berkah berupa perlindungan gaib yang menjauhkan wilayah mereka dari wabah atau bala, terutama ancaman serangan hama tikus yang kerap meresahkan petani di wilayah lain.

"Alhamdulillah, selama diadakan sedekah bumi itu mereka percaya sebagai penolak tikus juga lah," ujar Pri Hartono saat ditemui dalam kegiatan tersebut. 

Ia menambahkan, warga meyakini ada korelasi mistis dan spiritual yang kuat antara pelaksanaan sedekah bumi dengan terjaganya hasil pertanian di Desa Bedoro.  Desa ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terbaik di tingkat kecamatan.

Puncak dari rangkaian kirab hasil bumi ini melibatkan ritual yang dipusatkan di Sendang Sukowati, sebuah sumber air keramat yang menjadi nadi kehidupan warga setempat. Hingga saat ini, air dari sendang tersebut tidak pernah kering dan masih dimanfaatkan secara maksimal untuk sumber air bersih Pamsimas serta pengairan lahan pertanian.

Di balik fungsi ekonominya yang vital bagi kawasan agraris tanpa pabrik ini, Sendang Sukowati juga menyimpan aura mistis yang kental. Saat disinggung mengenai penjaga gaib di sumber air tersebut, Kades Pri Hartono tidak menampik keberadaan makhluk tak kasat mata di kawasan keramat itu.

Wujud "lelembut" atau entitas gaib penunggu sumber dirasa cukup banyak. Meski bernuansa mistis, warga justru memandang hal tersebut secara positif sebagai bagian dari penjagaan alam gaib terhadap ekosistem desa mereka.

Sebagai desa yang konsisten menolak berdirinya pabrik demi mempertahankan ruang hijau, mayoritas penduduk Bedoro menggantungkan hidupnya sebagai petani murni. Warga meyakini bahwa kelestarian alam dan tradisi sakral ini harus terus dijaga agar hasil bumi. Mulai dari padi kualitas unggul, jagung, ketela, hingga palawija tetap melimpah ruah.

Rangkaian acara sedekah bumi yang puncaknya digelar pada 14 Agustus  ini tidak hanya diisi dengan kirab hasil bumi ke Sendang Sukowati, tetapi juga dimeriahkan dengan kesenian tradisional Reog pada siang hari, serta panggung hiburan orkes jadul.

Bagi warga Bedoro, tradisi ini adalah ikatan abadi antara manusia, alam, dan leluhur. Sebuah kearifan lokal yang menyatukan aroma mistis pedesaan dengan berkah kemakmuran yang terus mengalir tanpa henti, hal ini menjadi harapan semua warga masyarakat.

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID