SUARA DAERAH SRAGEN – Jagat pendidikan di Sragen mendadak bergolak. Proses seleksi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) tingkat SMP di Kabupaten Sragen diterpa isu miring yang menyengat. Sejumlah peserta yang dinyatakan "gugur" melayangkan surat keberatan yang ditujukan langsung kepada Bupati Sragen. Mereka membongkar adanya dugaan manipulasi dan kongkalikong yang dilakukan secara senyap.
Berdasarkan data yang dihimpun dari dokumen surat tertanggal Selasa (30/6/2026) tersebut, para guru yang tidak lulus membongkar borok proses seleksi yang dinilai sangat tertutup dan jauh dari rasa keadilan.
"Ada dugaan kuat peserta yang dinyatakan tidak layak dan bahkan tidak pernah ikut Diklat, justru diluluskan secara diam-diam oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen," tulis pengirim anonim dalam surat yang mengatasnamakan forum peserta tidak lulus tersebut.
Kekecewaan massal ini bukan tanpa alasan. Sedikitnya ada 49 peserta yang didepak tanpa alasan yang transparan. Tragisnya, beberapa guru yang menyandang predikat berprestasi justru ditendang dari daftar kelulusan tanpa ada penjelasan indikator penilaian. Sebaliknya, dari informasi yang beredar, justru muncul nama-nama yang awalnya tidak lulus namun tiba-tiba melenggang masuk dalam daftar 14 orang yang diluluskan.
Kondisi ini membuat para guru merindukan era kepemimpinan masa lalu, seperti jaman kepala Disdikbud Sragen dipimpin Suwardi, di mana semua hasil diumumkan blak-blakan di papan pengumuman.
Tak pelak, serangan tajam pun langsung mengarah ke jantung Disdikbud Sragen. Kepemimpinan Kepala Disdikbud saat ini, Purwanti, dikritik habis-habisan dalam surat itu karena dinilai lemah, tertutup, dan tidak menjiwai roh seorang pemimpin. Surat tersebut bahkan mengungkit kembali masa lalu pengangkatan Purwanti oleh Bupati, yang mengabaikan peraih peringkat tertinggi tim seleksi saat itu, yakni Tri Wahyuni dan Sukisno.
Dalam surat itu seleksi CKS saat ini terkesan hanya formalitas belaka. Bukan mencari sosok yang jujur dan berprestasi, melainkan hanya mengakomodasi orang-orang dekat yang menganut prinsip ABS (Asal Bapak Senang).
Lantaran dinilai mencederai dunia pendidikan, pengirim mendesak Bupati segera melakukan evaluasi total dan menggelar seleksi ulang yang berkeadilan. Jika tuntutan ini diabaikan, puluhan guru ini mengancam akan melakukan aksi boikot massal dan emoh mengikuti seleksi kepala sekolah di masa mendatang.
Sayangnya, Kepala Disdikbud Kabupaten Sragen, Purwanti, masih terkesan menghindar saat hendak ditemui untuk dikonfirmasi. Melalui pesan singkat, ia berdalih sibuk dengan agenda rapat yang padat.
"Siang mas, saya longgarnya nanti sore itu mas? Setelah selesai rapat mas, tapi selesainya rapat jam brapa belum bisa ditentukan," ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Di sisi lain, Wakil Bupati Sragen, Suroto, saat ditemui terpisah di Mapolres Sragen, justru mengaku tidak tahu terkait polemik panas yang mengguncang korps pahlawan tanpa tanda jasa ini. Suroto mengaku belum mengetahui adanya surat kaleng yang memprotes hasil seleksi kepala sekolah tersebut. "Saya tidak tahu dan itu bukan wewenang saya," tegas Suroto.
Jurnalis Wahono


Social Header