Breaking News

Abu Ampas Tebu PG Mojo Kotori Rumah Warga : Manajemen Sebut Faktor Cuaca dan Revitalisasi Mesin Tua


SUARA DAERAH SRAGEN –  Polusi abu ampas tebu kotori rumah sekitar pabrik gula Mojo dikeluhkan warga : Proses giling tebu di Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen membawa dampak kurang sedap bagi warga sekitar. Beberapa hari terakhir, jelaga hitam atau yang akrab disebut abu ampas tebu ( langes ) sisa pembuangan cerobong asap pabrik disinyalir beterbangan dan mengotori pemukiman warga di wilayah Kelurahan Sragen Kulon.

Rahmat Samsono, salah satu warga Sragen Kulon, mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, sisa limbah padat berwarna hitam itu mengotori teras dan halaman rumah warga setiap hari sejak musim giling dimulai. Kondisi ini juga banyak dikeluhkan di media sosial. 

"Sudah beberapa hari terakhir, tepatnya sejak waktu giling tebu dimulai," ketusnya.

Dia berharap pihak manajemen segera melakukan perbaikan sistem pembuangan asap karena banyaknya warga yang terdampak polusi visual dan udara tersebut.

Menanggapi keluhan tersebut, manajemen PG Mojo tidak menampik adanya rembesan jelaga yang sampai ke pemukiman. Karyawan PG Mojo, Samuel Mahendra, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan pembenahan parsial pada sistem mesin boiler pembuangan. Namun, merawat pabrik peninggalan era kolonial diakuinya bukan perkara mudah.

"Alatnya sudah tua dan kami harus rapikan, beberapa bagian sudahdiperbaiki. Tetapi itu tidak mudah," ujar Samuel.

Ia menambahkan, urusan suku cadang mesin tua juga membutuhkan penyesuaian khusus. "Kalaupun ada spare part yang didatangkan, istilahnya ditempel agar bisa dipakai, tapi tidak bisa langsung pas begitu saja. Perlu banyak modifikasi dan penyesuaian di lapangan," imbuhnya.

Selain faktor mekanis, Samuel menyebut faktor cuaca tahun ini memperparah sebaran debu. Berbeda dengan musim giling tahun lalu yang masih sering diguyur hujan atau emarau basah, tahun ini wilayah Sragen memasuki musim kemarau yang sangat kering. 

"Namanya pabrik gula, sesepuh dulu sering bilang kalau musim giling itu pasti pas ketigo. Nah, tahun ini kemaraunya . Angin kencang saat siang dan udara panas membuat debu dari dapur boiler kami menyebar lebih luas karena tidak tereduksi oleh air hujan seperti tahun lalu," bebernya.

Pihak manajemen menegaskan tidak tinggal diam. Berdasarkan pemantauan, volume debu diklaim sudah mulai menurun dalam tiga hari terakhir jika dibandingkan dengan kondisi sepuluh hari yang lalu.

Saat ini, fokus teknisi PG Mojo adalah menambah komponen penyaring pada cerobong ketel untuk meminimalisir semburan jelaga. "Kalau tahun lalu dengan tiga alat treatment di cerobong sudah aman, tahun ini melihat kondisi cuaca yang kering, alat mereduksi ini harus kami tambah lagi. Teknisi kami terus berupaya maksimal meminimalisir, syukur-syukur bisa hilang sama sekali," pungkas Samuel. 

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID