SUARA DAERAH SRAGEN -- Masih di temukan data warga yang telah meninggal dunia tercatat dalam daftar penerima manfaat : Benang kusut penyaluran bantuan sosial (bansos) di tingkat bawah masih terjadi. Kali ini, proses pendistribusian bansos pangan dari Bulog di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, terpaksa berjalan merayap. Akibatnya, ratusan warga penerima manfaat harus rela mengantre hingga berjam-jam sejak pagi hingga sore hari.
Berdasarkan pantauan di lapangan, proses pembagian yang menyasar 501 warga tersebut tidak berjalan efektif. Selain karena keterbatasan waktu di hari Jumat, persoalan klasik terkait validasi data dan minimnya personel di lapangan menjadi pemicu utama molornya distribusi.
Kepala Desa (Kades) Tenggak, Setyanto, tidak menampik adanya kendala tersebut. Hingga lebih dari pukul 15.00 WIB, proses penyaluran baru menyentuh angka 70 persen. Pendistribusian dipastikan tidak bisa rampung dalam satu hari dan terpaksa molor ke hari berikutnya.
"Penerimanya ada 501 orang, jadi memang membutuhkan waktu cukup lama. Apalagi ini hari Jumat yang waktunya pendek karena terpotong jeda salat Jumat. Banyak yang kelelahan menunggu lama," ujar Setyanto saat ditemui di lokasi pembagian, Jumat (5/6/2026)
Kritik tajam pun mengemuka terkait kesiapan Bulog dalam manajemen distribusi. Untuk melayani lebih dari 500 warga, Bulog terpantau hanya menerjunkan dua orang petugas. Rasio yang sangat tidak seimbang ini dinilai menjadi biang keladi lambatnya pelayanan. Guna mengurai antrean, pihak pemerintah desa akhirnya terpaksa menerjunkan pengurus RT untuk membantu proses teknis di lapangan.
"Harusnya dengan kuota 500 penerima lebih, petugasnya ditambah, minimal empat orang agar bisa selesai dalam satu hari. Kalau cuma dua orang jelas kurang," keluh Setyanto.
Tak hanya perkara teknis kekurangan personel, validasi data penerima bantuan dari pusat lagi-lagi menjadi rapor merah. Pemerintah Desa Tenggak menemukan banyak revisi, salah satunya adalah masih tercantumnya nama warga yang sudah meninggal dunia sebagai penerima bantuan aktif.
Di sisi lain, kondisi ini memicu kecemburuan sosial di masyarakat. Masih ada warga yang merasa sangat membutuhkan dan berhak, namun justru tidak mendapatkan undangan resmi dari Bulog karena namanya tidak masuk dalam sistem.
"Kami dari desa hanya membagikan undangan sesuai data yang dikirim oleh Bulog. Faktanya, ada data yang sudah meninggal tetapi namanya masih keluar," pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak desa masih membantu dengan petugas lapangan agar sisa kuota bansos yang belum tersalurkan bisa segera diselesaikan dalam sehari.
Jurnalis Wahono


Social Header