SUARA DAERAH SRAGEN – Libur 1 suro diam diam lakukan sidak , Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo membuat kejutan di Sragen. Tanpa ada pemberitahuan resmi maupun iring-iringan seremonial, Dody melakukan inspeksi mendadak (sidak) langsung ke lokasi proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR).
Kedatangan orang nomor satu di Kementerian PU ini terbilang senyap karena sama sekali tidak didampingi oleh pejabat daerah maupun Bupati Sragen. Langkah "gerilya" ini sengaja diambil Dody untuk melihat kondisi riil di lapangan tanpa polesan keprotokolan.
"Saya memang sengaja mencari titik-titik yang belum selesai di mana. Supaya kita bisa langsung berdiskusi di lokasi, mencari tahu masalahnya apa, dan segera menemukan solusinya," tegas Dody saat memantau salah satu sudut bangunan.
Hasilnya, menteri bentukan kabinet baru ini langsung mendapati proyek yang sedang berjalan tidak dalam kekuatan penuh. Penyebab utamanya adalah faktor budaya lokal yakni bulan Suro. Di tanah Jawa, momentum pergantian tahun Jawa atau Suroan merupakan hari libur besar yang sangat sakral bagi sebagian para pekerja kasar.
Akibatnya, banyak pekerja yang memilih pulang dan absen dari area proyek. Kondisi tersebut membuat jumlah tenaga kerja harian merosot tajam. Dari kuota normal yang biasanya menyentuh angka 900-an orang, saat sidak berlangsung hanya tersisa 679 pekerja di lokasi. Artinya proyek kehilangan sekitar 20 persen kekuatan utamanya.
"Di mana-mana masalahnya sama, tenaga kerja. Kebetulan ini pas liburan Suro, Selasa Suro kan. Ini kan kita masih di tahun Jawa, jadi Suro merupakan hari libur besar kalau di tanah Jawa," ungkap Dody mengomentari sepinya aktivitas pekerja di lokasi proyek.
Meski dihantam "libur Suro", Dody mencatat progres fisik Sekolah Rakyat di Sragen sebenarnya masih cukup menjanjikan. Jika rata-rata progres nasional berada di angka 79,31 persen, capaian Sragen justru melompat di angka 87 persen dan masuk dalam jajaran salah satu yang terbaik di Indonesia. Namun, menteri PU tidak mau cepat puas karena target penyelesaian tinggal menghitung hari.
Untuk menutup defisit pekerja pasca-Suro, Dody langsung menginstruksikan pihak penyedia jasa untuk melakukan penambahan tenaga kerja secara masif hingga menyentuh angka 1.100 sampai 1.200 orang. Dody memprediksi dalam satu dua hari ke depan, gelombang pekerja akan kembali mengalir mengingat Solo Raya, termasuk Sragen merupakan lumbung utama tenaga kerja konstruksi.
Tidak ada waktu untuk bersantai. Agar target fungsional gedung sekolah tidak meleset dari akhir Juni, Kementerian PU mewajibkan proyek dipecut tanpa henti dengan sistem kerja lembur penuh atau shift 24 jam.
"Target kami akhir Juni semuanya sudah harus fungsional. Walaupun mungkin ada beberapa titik yang belum selesai 100 persen, yang penting sudah bisa digunakan. Jadi begitu masuk tahun ajaran baru di bulan Juli, adik-adik kita sudah bisa langsung menempati gedung sekolah yang baru," pungkasnya.
Sementara itu, Pihak kontraktor pelaksana proyek Sekolah Rakyat (SR) Sragen langsung bergerak cepat merespons instruksi Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo yang meminta percepatan pembangunan. PT Adhi Karya selaku pemegang proyek memastikan bahwa ritme kerja di lapangan kini telah dioptimalkan demi mengejar target fungsional total menjelang tahun ajaran baru.
Project Manager PT Adhi Karya untuk proyek SR Sragen, Ugi Sugiarto, mengungkapkan bahwa posisi progres pembangunan saat ini sebenarnya sudah sangat impresif. Fisik bangunan secara keseluruhan telah menyentuh angka 87,12 persen.
"Dengan angka tersebut, proyek SR Sragen ini berhasil masuk dalam jajaran 5 besar proyek dengan progres tercepat di Indonesia," urainya.
Meski demikian, pihaknya tidak mau jemawa mengingat masa kontrak kerja akan habis pada 20 Juni 2026 mendatang. Menindaklanjuti teguran menteri terkait merosotnya jumlah pekerja akibat libur Suro, Ugi menegaskan mobilisasi massa pekerja kini menjadi fokus utama. Saat ini, jumlah tukang yang bertahan di perimeter proyek berada di kisaran 980-an pekerja.
Sesuai dengan titah kementerian, jumlah ini akan terus didongkrak secara bertahap hingga menyentuh batas minimal 1.100 orang pekerja dalam satu-dua hari ke depan. "Kami memaksimalkan potensi wilayah. Sekitar 30 persen dari total pekerja yang ada saat ini merupakan warga lokal Sragen," tambahnya.
Langkah ini sekaligus mempercepat adaptasi lapangan karena para pekerja lokal tidak terkendala masalah akomodasi.
Ugi memetakan bahwa sisa pekerjaan mayoritas didominasi oleh pengerjaan arsitektural atau finishing. "Fasilitas utama yang masih kami kejar adalah kantin SD dan kantin SMA. Saat ini strukturnya sudah selesai, tinggal proses pemasangan atap. Kami perkirakan dalam 4 hari ke depan area kantin ini sudah tertutup rapi," jelasnya.
Kabar baiknya, masa krusial finishing ini dipastikan bebas dari kendala klasik proyek: kelangkaan material dan utilitas dasar. Ugi menjamin pasokan logistik dan alat berat di lapangan sangat aman. Bahkan, masalah air bersih dan daya listrik yang kerap menjadi batu sandungan di akhir proyek sudah teratasi sepenuhnya.
"Untuk air, posisi geografis kita sangat menguntungkan karena kantor PDAM berada tepat di sebelah proyek, jadi penyambungan pipa utama sangat lancar. Sementara untuk listrik, pihak PLN juga sudah melakukan proses energize. Aliran listrik tegangan tinggi sudah masuk ke power house kami," pungkas Ugi.
Jurnalis Wahono


Social Header