SUARA DAERAH SURAKARTA -- Bursa calon Jaksa Agung Republik Indonesia periode 2024–2029 kian menghangat. Di antara deretan nama yang mencuat, sosok Dr. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha menjadi salah satu kandidat kuat yang dinilai paling mumpuni untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di Korps Adhyaksa pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pria kelahiran Denpasar, 25 Desember 1960 ini bukanlah orang baru di dunia penegakan hukum. Dengan rekam jejak mentereng selama lebih dari tiga dekade sejak 1989, Jaksa Utama Madya (IV/d) ini dikenal memiliki integritas tanpa kompromi. Jabatan terakhirnya sebagai Jaksa Ahli Utama Madya pada Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejaksaan Agung menjadi bukti kematangannya.
Namun, di balik profilnya yang tegas dan bersahaja sebagai penegak hukum, ada sisi menarik lain yang mencuri perhatian publik. Pendamping hidup sang calon Jaksa Agung ternyata adalah seorang srikandi tangguh yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, Prof. Dr. Hj. Anna Mariana, SH., MH., MBA.
Lahir di Solo pada 1 Januari 1960, Prof. Anna Mariana membawa keanggunan dan ketekunan khas tanah kelahirannya ke panggung budaya nasional dan internasional. Selama hampir 36 tahun—lebih dari separuh usianya—Anna telah mendedikasikan diri sebagai pelopor, pengabdi, sekaligus pelestari kain tenun dan songket tradisional Nusantara.
"Mengedukasi dan memperkenalkan tenun serta songket tradisional kepada generasi muda adalah kewajiban. Ini adalah upaya agar warisan leluhur kita terus hidup, berinovasi, dan tidak punah digilas zaman," ungkap Anna.
Kiprah Anna tidak main-main. Ia membina, mengembangkan, dan melindungi para pengrajin kain tradisional di berbagai pelosok kepulauan Indonesia. Baginya, tenun dan songket bukan sekadar lembaran kain, melainkan identitas, jati diri, sekaligus perekat komponen bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lewat tangan dinginnya, sejarah tenun yang membentang dari era kerajaan Nusantara hingga sejarah Islam terus dihidupkan.
Karya-karya adiluhung perempuan asal Solo ini bahkan telah diakui di level tertinggi negara. Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, beserta Ibu Negara Iriana Jokowi tercatat beberapa kali mengenakan busana hasil rancangan Anna Mariana dalam momen-momen penting.
"Terakhir saat Pak Jokowi dan Bu Iriana mengenakan tenun babe dan selendang karya kami pada perayaan Lebaran Betawi tahun 2017 lalu," ujar Anna.
Kombinasi sosok Dr. Tjokorda yang bersih di dunia hukum serta sang istri yang berakar kuat pada pelestarian budaya membuat pasangan yang kini berdomisili di Jakarta Selatan ini mendapat banjir dukungan dari berbagai elemen masyarakat.
Rekam jejak Dr. Tjokorda yang pernah membidani lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di masa awal serta keterlibatan langsungnya dalam mengusut 58 kasus besar Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di bawah Jampidsus, menjadikannya figur yang dinilai sangat siap menghadapi tantangan reformasi hukum.
Dengan tuntutan penguatan institusi kejaksaan yang lebih profesional, duet figur hukum berintegritas dan srikandi pelestari budaya asal Solo ini dinilai menjadi kombinasi harmonis yang siap membawa angin segar bagi penegakan hukum di tanah air.
Jurnalis Wahono
Editor : Nofis


Social Header