SUARA DAERAH SRAGEN –Batu mani gajah masih dicari , belasan tahun silam, Dukuh Bonagung di Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, sempat menjadi pusat perhatian para pemburu batu akik. Wilayah yang terletak di lereng tandus ini dikenal sebagai lokasi penemuan batu "Mani Gajah" yang bernilai ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Namun kini, aktivitas perburuan tersebut telah sepenuhnya mati dan lokasinya telah berubah menjadi lahan pertanian.
Akses menuju Dukuh Bonagung, khususnya di wilayah RT 24, saat ini masih tergolong sulit. Jalur menuju lokasi penemuan batu tersebut sangat sempit dan mengalami kerusakan di beberapa titik. Kondisi geografisnya didominasi oleh lereng gersang yang kini dimanfaatkan warga sebagai sawah tadah hujan dan perkebunan pohon jati.
Menurut salah seorang warga setempat, Parmi (55), masa kejayaan perburuan batu Mani Gajah terjadi sekitar 15 tahun lalu. Pada masa itu, banyak warga luar daerah maupun setempat yang berbondong-bondong mengais rezeki di kawasan tersebut.
"Dulu harganya bervariasi tergantung ukuran dan kualitas bahan great A great B great C. Ada yang Rp300.000 Rp500.000,- bahkan sampai Ratusan juta lebih untuk ukuran besar great A bening kristal berwarna kuning kebiruan dan memiliki tingkat kekuatan spiritual. Indonesia yang memiliki kekayaan hasil tambang jenis batu menyimpan ragam macam batu yang memiliki daya jual international. Bahkan banyak senjata pedang dan keris di zaman kerajaan menggunakan hiasan batu batu mulia yang mahal di gagang atau serangkanya. Menandai bahwa kuwalitas senjata memiliki nilai yang sangat istimewa.
Pemburu batu banyak yang memiliki kuwalitas great C dibanyak penjual batu.
Sementara untuk ukuran sekepalan tangan paling murah great C dihargai sekitar Rp100.000" ujar Parmi saat ditemui di kediamannya.
Parmi menjelaskan, batu Mani Gajah memiliki karakteristik yang membedakannya dengan batu biasa. Ciri utamanya terletak pada bagian dalam batu yang memiliki corak atau "biji" berwarna kuning murni. Lokasi penemuannya berada di kawasan hutan perkebunan jati yang terletak di lorong kiri jalan masuk perkampungan, dengan jarak yang relatif dekat dari pemukiman.
Saat ini, seluruh area bekas galian batu tersebut telah diratakan kembali oleh warga dan dialihfungsikan menjadi area persawahan tadah hujan. Aktivitas pencarian secara massal sudah tidak terlihat lagi.
Meski demikian, Parmi menyebut bahwa pemesanan secara khusus masih memungkinkan jika dicari oleh warga yang mengetahui medan dan sisa-sisa titik persebaran batu tersebut.
Jurnalis Wahono


Social Header