SUARA DAERAH SRAGEN – Di antara jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sektor perbankan di Kabupaten Sragen, PT BPR Syariah Sragen (Perseroda) boleh dibilang sebagai "adik bungsu". Usianya baru menginjak 18 tahun tepat pada hari ini, 2 Juni 2026. Namun, jangan remehkan performa si bungsu ini. Di usia yang muda, bank syariah milik Pemkab Sragen tersebut justru sukses mencatatkan lompatan kinerja yang fenomenal.
Memulai operasional pada 2 Juni 2008 dengan modal awal yang terhitung mini, yakni aset sebesar Rp 1,18 miliar, kini Bank Syariah Sragen menjelma menjadi kekuatan finansial yang diperhitungkan. Per Mei 2026, aset mereka melesat tajam hingga menutup angka di Rp 507 miliar. Sebuah pertumbuhan raksasa yang mencapai lebih dari 400 kali lipat.
"Alhamdulillah, perjalanan 18 tahun ini penuh berkah. Dari yang semula bermodal Rp 1,18 miliar, kini aset kami sudah menembus Rp 507 miliar," ungkap Direktur Utama Bank Syariah Sragen, Fachrudin, saat berbincang hangat dengan awak media.
Transformasi korporasi ini tidak hanya terlihat dari angka-angka di atas kertas. Ekspansi jaringan pun bergerak masif. Jika 18 tahun lalu mereka terseok-seok dengan hanya mengandalkan 9 karyawan di 1 kantor mini di Sragen, kini kepakan sayap bisnisnya kian melebar.
Bank Syariah Sragen sekarang diperkuat oleh 93 karyawan yang tersebar di 10 jaringan kantor. Hebatnya lagi, wilayah operasionalnya kini tidak lagi jago kandang di Sragen, melainkan sudah merambah ke empat kabupaten tetangga: Boyolali, Wonogiri, Karanganyar, dan Grobogan.
Di tengah posisinya sebagai BUMD perbankan termuda dibandingkan para "kakak tua"-nya seperti BPR BKK Karangmalang, BPR BKK Jateng, dan BPR Djoko Tingkir, Bank Syariah Sragen terbukti menjadi mesin pencetak uang yang sangat produktif bagi kas daerah.
Hingga tutup buku tahun 2025 lalu, Bank Syariah Sragen tercatat telah menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa dividen sebesar Rp 32,5 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Sragen sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP). Angka tersebut bahkan sudah melampaui total investasi modal yang disuntikkan Pemkab selama ini sebesar Rp 20,8 miliar.
"Artinya, modal dari Pemda itu masih utuh, sementara kontribusi PAD yang kami berikan selama 18 tahun ini sudah melampaui nilai modal itu sendiri. Ini komitmen kami untuk terus membangun kesejahteraan masyarakat Sragen melalui tata kelola perbankan syariah yang sehat, kuat, dan efisien," tegas Fachrudin.
Ketangguhan Bank Syariah Sragen dalam menjaga tren pertumbuhan ini terbilang luar biasa, mengingat paruh pertama tahun ini dirasakan sangat menantang bagi industri perbankan. Selain faktor makro, banyaknya hari libur dan tanggal merah di sepanjang Januari hingga Mei sempat membuat ritme bisnis perbankan harus berstrategi ekstra keras.
"Bagi lembaga perbankan, banyaknya hari libur di semester pertama kemarin itu bisa bikin 'gulung koming' (jungkir balik, Red) jika tidak diantisipasi dengan baik. Ditambah lagi kondisi ekonomi secara umum saat ini sedang melandai," kelakar Fachrudin.
Namun, alih-alih tiarap, pihaknya memilih menyikapi kelesuan ekonomi ini dengan radar positif. Menurutnya, perlambatan ekonomi saat ini merupakan imbas global yang tidak bisa dihindari, menyusul koreksi kapasitas produksi dan pasar di negara raksasa ekonomi seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, ditambah tensi geopolitik dunia.
Kunci untuk menghadapi tantangan global tersebut, lanjut Fachrudin, adalah dengan memperkuat sinergi domestik dan memperluas kemitraan strategis, mulai dari jajaran pemerintahan, sektor swasta, hingga peran media massa sebagai penyambung lidah ke masyarakat.
Jurnalis Wahono


Social Header