Breaking News

Menjadi Penyangga Pangan , Kabupaten Sragen Pasok 30 Persen Target Beras di Solo Raya


SUARA DAERAH SRAGEN – Kabupaten Sragen dikenal sebagai lumbung padi penyangga pangan  wilayah Solo raya :  Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta memastikan ketahanan pangan di wilayah Solo Raya berada dalam kondisi yang sangat aman. Hingga pertengahan tahun ini, total stok beras yang dikelola di gudang-gudang Bulog tercatat telah menyentuh angka 92.000 ton. Jumlah tersebut diklaim melimpah dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun, bahkan hingga memasuki awal tahun 2027 mendatang.

Keberhasilan pemenuhan cadangan pangan ini tidak lepas dari agresifnya penyerapan gabah dan beras di tingkat petani domestik. Dari total target penyerapan Solo Raya tahun 2026 yang dipatok sebesar 93.000 ton, Bulog saat ini telah merealisasikan sebanyak 73.000 ton atau setara dengan 79 persen. Sisa target sebesar 20.000 ton akan terus dikejar melalui sisa masa panen gadu (Musim Tanam II) yang sedang berlangsung.

Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Hariyanto, mengungkapkan bahwa Kabupaten Sragen menjadi tulang punggung utama dan penyumbang terbesar dalam pencapaian tersebut. Dari target daerah sebesar 38.500 ton untuk tahun 2026, Sragen justru melesat melampaui estimasi dengan realisasi mencapai 111 persen.

"Sesuai proyeksi Dinas Pertanian, produksi Sragen berada di urutan ketiga di Solo Raya. Namun untuk urusan penyerapan, Sragen adalah yang terbesar. Sekitar 30 persen dari total target Solo Raya disumbang dari sini," ujar Nanang saat ditemui di Kompleks Pergudangan Duyungan, Sragen Senin (29/6/2026)

Meskipun Sragen mencatatkan rapor hijau, dinamika penyerapan di kabupaten lain  terpantau masih variatif dan belum ada yang menyentuh angka 100 persen. Sukoharjo menempati posisi kedua tertinggi dengan realisasi 83 persen. Sementara itu, Kabupaten Boyolali tercatat sebagai wilayah dengan penyerapan paling rendah, yakni masih bertengger di kisaran 50-an persen.

Nanang mengakui, sesuai dengan keputusan pemerintah, regulasi membatasi harga beli Bulog di angka Rp 6.500 per kilogram.
"Kalau harga di tingkat petani sudah di atas Rp 6.500, misalnya mencapai Rp 7.300, tentu kami tidak bisa membeli. Tapi di sisi lain, itu artinya petani kita sudah sejahtera karena usaha taninya menghasilkan keuntungan yang lebih baik. Kami mengembalikan hak jual kepada petani jika harga di pasar komersial lebih tinggi," jelasnya.

Terkait rendahnya serapan di Boyolali meski memiliki luasan lahan yang signifikan, Bulog mengevaluasi faktor keterbatasan jaringan mitra penggilingan lokal. Untuk mengatasi hal tersebut, Bulog tengah memperluas skema kerja sama dengan mitra-mitra penggilingan baru di Boyolali agar tidak melulu bertumpu pada mekanisme pembelian langsung ke petani.

Untuk menekan gejolak harga di tingkat konsumen, Bulog Surakarta bergerak aktif melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Gerakan Pangan Murah (GPM). Di Gudang Bulog, masyarakat dapat menebus beras SPHP kemasan 5 kilogram dengan harga Rp 11.000 per kilogram atau Rp 55.000 per pak. Sementara untuk harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pedagang pasar atau jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) dibatasi maksimal Rp 12.500 per kilogram.

"Khusus di Kabupaten Sragen, stok di Gudang Duyungan dan Gudang Masaran (Krikilan) masing-masing menyimpan 8.000 ton, sehingga total ada 16.000 ton stok lokal. Masyarakat tidak perlu khawatir, cadangan sangat mencukupi," imbuh Nanang.

Selain stabilisasi pasar, stok masif ini dipersiapkan untuk penugasan eksklusif berupa Bantuan Pangan nasional. Bulog menjadwalkan penyaluran bantuan pangan beras periode Juli secara berkala sebesar 10 kilogram per bulan per Keluarga Penerima Manfaat (KPM), yang akan berlanjut hingga Agustus dan September sembari menunggu komando Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Untuk realisasi bantuan pangan sebelumnya pada alokasi Februari-Maret, Bulog mengklaim distribusinya telah rampung 100 persen di Sragen, dengan total volume penyaluran mencapai 1.800 ton beras yang menyasar sekitar 180.000 penerima manfaat. Secara total se-Solo Raya, program ini mengcover hingga 800.000 KPM.

Menjawab kekhawatiran publik mengenai risiko penurunan kualitas komoditas akibat masa simpan yang panjang, Bulog menerapkan standar operasional perawatan berkala yang ketat. Proses mitigasi kerusakan beras dilakukan melalui dua tahapan, yakni tindakan preventif (pencegahan) dan kuratif (pengendalian).

Tindakan pencegahan dilakukan dengan metode penyemprotan cairan pelindung secara rutin setiap bulan guna mematikan koloni hama sejak dini. Sementara untuk penanganan kuratif, Bulog menerapkan sistem fumigasi berkala setiap dua hingga tiga bulan.

"Jika terdeteksi ada hama yang mulai berkembang, tumpukan beras akan kami sungkup atau ditutup rapat dengan plastik khusus, lalu diaplikasikan pengobatan anti-hama (obat gesing). Metode ini sudah teruji bertahun-tahun efektif membasmi hama tanpa merusak struktur dan kualitas beras di dalamnya. Gudang bahkan akan diistirahatkan sementara dari aktivitas pelayanan selama proses pengobatan berjalan demi hasil yang maksimal," pungkas Nanang. 

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID