Breaking News

Hati - hati ! Jalan Sadang "Menggantung" Usai Diterjang Longsor Bengawan Solo


SUARA DAERAH SRAGEN – Beberapa hari ini curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sragen beberapa hari terakhir mengakibatkan longsor serius di bantaran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Dukuh Sadang, RT 01 dan 02, Desa Kecik, Kecamatan Tanon. Akibatnya, akses jalan desa yang menjadi jalur utama warga kini dalam kondisi kritis dan "menggantung".

Situasi saat ini terlihat aliran Sungai Bengawan Solo yang berwarna cokelat pekat mengalir deras tepat di samping jalan desa. Sebagian besar tebing sungai telah luruh, menyisakan jurang vertikal yang sangat dalam. Pemandangan paling mengerikan terlihat pada bagian bahu jalan; lapisan semen (cor) tampak menjorok keluar tanpa adanya tanah penyangga di bawahnya. Akar pohon dan semak belukar ikut terseret longsor, sementara sisa-sisa material tanah terus terkikis oleh arus sungai yang meluap.

Kepala Desa Kecik, Sukidi, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa titik terparah berada di wilayah RT 02. Longsoran tersebut memiliki kedalaman antara 10 hingga 15 meter dengan panjang area terdampak mencapai 10 meter.

"Kondisinya sudah gantung. Jalan yang lebar awalnya 2,5 meter, sekarang sudah tergerus sekitar satu meter lebih di bawahnya. Ini sangat berbahaya, apalagi jika Bengawan Solo kembali meluap," ujar Sukidi. 

Mengenai langkah penanganan, pihak Pemerintah Desa telah melapor ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Rencananya, perbaikan akan mulai dilakukan pada hari Senin mendatang secara manual.

"Kami sudah diperintahkan untuk mengumpulkan bambu oleh warga. Hari Senin besok, warga bersama tim BBWS akan bergotong-royong melakukan penanganan darurat dengan menggunakan bambu dan bronjong," tambah Sukidi.

Senada dengan Kades, Dodo, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyebutkan ada dua titik longsor yang membuat warga was-was saat melintas. "Bawahnya sudah tidak ada tanahnya, ibaratnya jalan ini cuma 'nempel' di udara. Kalau dipaksakan lewat, takutnya sewaktu-waktu ambrol," tuturnya.

Pembatasan akses dan rencana perbaikan
saat ini, warga secara swadaya telah memasang patok pembatas sebagai tanda bahaya. Akses jalan telah ditutup total untuk kendaraan roda empat (mobil), sementara sepeda motor masih diizinkan melintas dengan sistem satu jalur dan ekstra waspada. Bagi warga yang ingin lebih aman, tersedia jalur alternatif meski harus memutar sejauh kurang lebih 70 meter.

Anggota DPRD Sragen Endro Supriyadi menekankan Kondisi ini memerlukan perhatian khusus karena pemukiman di bantaran sungai tersebut cukup padat. Dia berharap perbaikan permanen segera dilakukan sebelum kerusakan jalan semakin meluas dan memutus akses ekonomi desa.
"Jalan ini adalah urat nadi bagi warga RT Jalan ini adalah urat nadi bagi warga, Jika jalan ini sampai putus total, mobilitas warga akan terhambat dan distribusi logistik desa terganggu. Menutup jalan untuk mobil adalah langkah tepat, namun membiarkan kondisi ini berlarut-larut tanpa kepastian perbaikan permanen adalah bentuk pengabaian hak warga atas infrastruktur yang layak dan aman," ujarnya.

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID