SUARA DAERAH SRAGEN –Bantuan dari pemerintah turun lagi : Pembagian bantuan pangan dari Bulog untuk warga miskin di Kelurahan Sragen Kulon, Kecamatan Sragen, berjalan lancar meski antrian cukup panjang. Sempat diwarnai kendala administrasi. Pihak kelurahan harus melakukan kerja ekstra lantaran ratusan data penerima manfaat sempat tidak tercantum detail alamat yang jelas.
Pantauan media Suara Daerah di lokasi Selasa (19/5/2026) antrian cukup panjang dan mengular. Namun masyarakat tampak bahagia lantaran mendapat beras dan minyak gratis.
Plt Lurah Sragen Kulon, Yuni Kusumawati, mengungkapkan bahwa dalam penyaluran kali ini, pihaknya menerima gelontoran logistik yang diangkut menggunakan empat armada truk dari Bulog. Tiga truk membawa komoditas beras, sementara satu truk lainnya mengangkut minyak goreng kemasan merek Minyak Kita.
Setelah dilakukan penghitungan manual di lapangan, seluruh logistik dipastikan klop dengan data manifes. "Total ada 1.538 Calon Penerima Manfaat (CPM) di wilayah kami yang masuk dalam kategori keluarga miskin. Untuk kuantum beras, total yang kami salurkan mencapai 30.760 kilogram, sedangkan untuk minyak goreng sebanyak 6.152 liter," beber Yuni saat ditemui di ruang kerjanya.
Setiap keluarga penerima manfaat (KPM) berhak membawa pulang paket bantuan berupa 20 kilogram beras yang dikemas dalam dua karung masing-masing 10 kilogram serta 4 liter minyak goreng.
Mengingat banyaknya barang bawaan, Yuni mengimbau warga untuk membawa wadah atau goodie bag mandiri dari rumah agar tidak kerepotan saat membawa pulang bantuan.
Namun, di balik lancarnya distribusi yang ditargetkan rampung dalam dua hari ini, Yuni membeberkan adanya kendala klasik terkait pemutakhiran data P3KE (Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem) yang bersumber dari Dinas Sosial. Dari total 1.538 penerima, terdapat sekitar 300-an warga yang identitas alamatnya buram, hanya tertulis RT 00 / RW 00, meski nomor induk kependudukannya (NIK) tercantum.
"Ini yang membuat staf di depan harus kerja dua kali. Kami harus memilah dan mengecek ulang satu per satu secara digital lewat aplikasi Personal In Charge (PIC). Begitu NIK dimasukkan, barulah ketahuan alamat aslinya, misalnya di Mojo Kulon RT sekian RW sekian. Setelah klir, baru kami tulis manual di pojok berkas untuk memudahkan distribusi ke tingkat RT," urai Yuni secara detail.
Seluruh penerima bantuan kali ini dipastikan berada di klaster desil 1 hingga desil 4, yang merujuk pada regulasi terbaru mengenai standarisasi keluarga miskin.
Menariknya, di tengah antrean warga yang memadati kantor kelurahan, Yuni melihat ada kesadaran moral di kalangan masyarakat. Ia menceritakan, baru-baru ini ada seorang warga yang secara sukarela mendatangi dirinya untuk menandatangani surat pernyataan mundur dari daftar penerima bantuan.
"Warga tersebut secara sadar mengaku bahwa kondisinya saat ini sudah berdaya dan mandiri, sudah punya pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarga. Ini paradigma yang luar biasa. Harapan kita secara makro, masyarakat yang sudah mandiri memang harus didorong untuk bangga karena tidak lagi bergantung pada bantuan," tandasnya.
Sedangkan bagi warga lansia, sakit, atau berkebutuhan khusus, pihak Kelurahan Sragen Kulon juga menerapkan kebijakan fleksibel. Proses pengambilan boleh dibantu atau dipapah oleh anggota keluarga yang tercantum dalam satu Kartu Keluarga (KK) dengan tetap membawa dokumen asli. Karena wajib datang, warga yang kondisi fisiknya kurang fit disarankan datang pada siang hari demi menghindari kepadatan antrean pagi.
Jurnalis Wahono


Social Header