SUARA DAERAH SRAGEN – Perum Bulog mulai tancap gas untuk mengikis ketergantungan impor kedelai. Melalui program Bulog Peduli Petani, BUMN pangan ini menerjunkan bantuan benih kedelai varietas Grobogan non-GMO (Genetically Modified Organism) di Desa Sambirejo, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jumat (15/5/2026) Namun, di balik seremonial penanaman di lahan seluas 70 hektare tersebut, terselip tantangan yang masih menghantui para petani.
Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Sudarsono Harjosoekarto, menyebut langkah ini sebagai upaya mengembalikan memori indah tahun 90-an. Kala itu, produksi kedelai lokal mampu menyentuh angka 1,6 juta ton.
"Kebutuhan nasional kita raksasa, tapi mayoritas masih diisi kedelai impor GMO. Dengan bibit non-GMO ini, kita ingin petani kembali bergairah memproduksi kedelai lokal yang lebih sehat dan berkualitas," tegas Sudarsono di sela penyerahan bantuan.
Tak hanya berhenti di sawah, Bulog juga bergerilya ke pengrajin tahu dan tempe di Pendopo Kabupaten Sragen. Tujuannya yakni meyakinkan pengusaha lokal bahwa kedelai dalam negeri tidak kalah hebat dari barang impor. Langkah ini diharapkan mampu memicu gelombang nasionalisme konsumen untuk kembali mencintai produk petani sendiri.
Meski Bulog membawa angin segar dengan bantuan 490 kg bibit premium, realita di lapangan tak semanis hasil panen. Ada dua ganjalan utama yang membuat kedelai lokal kerap terpinggirkan di Sragen.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sambirejo, Ali Shaikhul Huda, mengungkapkan Ekspansi Lahan Padi berpengaruh. Masifnya pembangunan sumur dalam membuat air melimpah sepanjang tahun. Akibatnya, petani lebih memilih menanam padi terus-menerus ketimbang menyelinginya dengan kedelai.
Di Sambirejo saja, lahan yang dulu mencapai 500 hektare, kini menyusut drastis tinggal 70 hektare. Selain itu, Petani masih mengeluhkan fluktuasi harga. Saat ini, kedelai baru memiliki Harga Acuan Pemerintah (AHP) sekitar Rp11.200/kg, namun kenyataan di pasar sering kali terjun bebas ke angka Rp9.000 hingga Rp10.000/kg.
Petani sangat mendambakan kepastian. Mereka berharap pemerintah segera menaikkan status dari Acuan Harga Pemerintah (AHP) menjadi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang bersifat wajib.
"Harapannya ada jaminan harga minimal saat panen raya, sama seperti perlakuan pemerintah terhadap komoditas padi. Jadi petani tidak was-was rugi saat mau menanam," ujar Ali.
Direktur Java Agro Prima, Sunarso, membeberkan perbandingan kualitas yang cukup mencolok. "Kedelai non-GMO ini gen asli, jauh lebih sehat dibanding produk rekayasa genetika. Kehadiran Bulog memberikan harapan karena ada jaminan pasar yang fokus pada mutu," kata Sunarso.
Jurnalis Wahono


Social Header