SUARA DAERAH SRAGEN – Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari turun langsung meninjau lokasi ambrolnya atap ruang kelas di MTs Muhammadiyah (MTsM) 4 Sambungmacan, Selasa (12/5) siang. Di tengah puing-puing material yang berserakan, terungkap fakta miris, bangunan yang menimpa delapan korban tersebut sudah seperempat abad tidak tersentuh renovasi.
Mengenakan seragam dinas, AKBP Dewiana tampak saksama mengamati kayu-kayu penyangga yang telah berubah menjadi bubuk kayu akibat lapuk. Berdasarkan temuan awal, gedung tersebut pertama kali berdiri pada 1978 dan terakhir kali mendapatkan sentuhan renovasi pada tahun 2000.
"Artinya sudah 26 tahun bangunan ini berdiri tanpa renovasi lagi. Kalau dilihat tadi, bagian atapnya memang sudah lapuk semua. Inilah yang diambil tim Satreskrim sebagai barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut," tegas AKBP Dewiana di lokasi kejadian.
Perwira menengah itu meminta pihak sekolah untuk segera memulangkan seluruh siswa. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk menjaga status quo Tempat Kejadian Perkara (TKP), namun demi kesehatan mental para siswa yang menyaksikan langsung kengerian tersebut.
"Anak-anak pasti syok dan trauma melihat kejadian itu di depan mata mereka. Biarkan mereka istirahat di rumah dulu untuk memulihkan kondisi psikisnya," tuturnya pemuh empati.
Terkait delapan korban (tujuh siswa dan satu guru) yang kini masih berjuang di rumah sakit, AKBP Dewiana memastikan pihak kepolisian akan terus memantau perkembangan medis mereka. Setelah dari lokasi, ia bergegas menuju rumah sakit untuk memberi dukungan moral langsung kepada para korban dan keluarga.
"Kami sudah berkomunikasi dengan pihak Yayasan. Mereka menyatakan akan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya pengobatan para korban," tambahnya.
Kapolres menekankan agar pengurus cabang maupun yayasan lebih proaktif dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan fasilitas pendidikan. Jangan sampai, gedung sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk menimba ilmu, justru berubah menjadi ancaman nyawa.
"Ke depan harus ada mapping kembali. Sekolah-sekolah yang kondisinya sudah tidak layak harus segera didata dan diajukan untuk tindak lanjut. Jangan sampai ada kejadian serupa yang terulang lagi di Sragen," pungkasnya.
Hingga siang ini, garis polisi masih melintang di area kelas 7 MTsM 4 Bulu. Penyelidikan mendalam masih berlangsung untuk menentukan apakah ada unsur kelalaian dalam pemeliharaan gedung sekolah yang telah berusia tua tersebut.
Jurnalis Wahono


Social Header