Breaking News

Peringati Satu Abad NU, Simbol Kebangkitan Kedua di Bumi Sukowati

 
SUARA DAERAH SRAGEN – Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Sukowati menjadi simbol "Kebangkitan Kedua". Tak sekadar seremoni, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen tancap gas memperkuat fondasi organisasi melalui jalur ideologisasi kader dan kemandirian ekonomi riil.

Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen, Sriyanto, menegaskan bahwa momentum seratus tahun ini adalah pembuktian soliditas organisasi. Hal itu tampak dari "lautan" atribut yang menghiasi pelosok kabupaten.  Ribuan bendera NU berkibar hingga ke tingkat ranting, disusul kehadiran sekitar ribuan warga pada puncak resepsi di GOR Diponegoro Sragen. 

"Ini adalah momentum kebangkitan. Kami membuktikan bahwa konsolidasi organisasi berjalan melalui berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh elemen," ujar Sriyanto dengan nada optimis.

Namun, fokus PCNU Sragen kini bergeser ke masa depan. Dua tantangan besar telah dipetakan yakni internal dan eksternal. Secara internal, penguatan ideologi melalui kaderisasi berjenjang, mulai dari tingkat cabang (PCNU), kecamatan (MWCNU), hingga desa (Ranting) menjadi harga mati sesuai amanah PBNU.

Di sektor eksternal, gebrakan paling konkret adalah peluncuran Sragen Mart. Sebuah proyek minimarket yang menjadi embrio kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
"Sragen Mart adalah wujud kemandirian kita. Kalkulasi kebutuhannya mencapai Rp 3 miliar, dan saat ini sudah terkumpul Rp 2,83 miliar," ungkapnya.

Menariknya, modal Sragen Mart bukan berasal dari satu-dua pemodal besar, melainkan hasil kolektif warga melalui sistem saham. Satu lembar saham dihargai Rp 250 000, yang diserap oleh warga NU dari tingkat desa hingga kabupaten. Strategi ini memastikan bahwa setiap warga memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap unit usaha tersebut.

Berlokasi di kawasan Atrium dengan status sewa, Sragen Mart tidak hanya menjual produk pabrikan. PCNU melalui Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) telah mematok kuota 30 persen rak untuk produk UMKM milik warga lokal.

"Kami sudah mendata produk UMKM warga. Jadi, Sragen Mart akan menjadi etalase sekaligus akses pasar bagi potensi ekonomi di tingkat bawah," tambah Sriyanto.

Semangat kolektivitas ini juga tercermin dalam tradisi tumpengan di acara harlah. Dari target 1.000 tumpeng, panitia justru kebanjiran kiriman hingga 1.134 tumpeng dari pengurus ranting. Setiap desa menyumbang tiga tumpeng sebagai simbol gotong royong.

Kini, PCNU Sragen berharap pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap agenda kemandirian ini. "Kami sangat berharap support pemerintah, terutama untuk program-program pemberdayaan masyarakat yang tengah kami laksanakan," pungkasnya. 

Jurnalis Wahono.
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID