Breaking News

Buntut Kades Ngepringan Mandi Dijalan Berlumpur,, Bagaimana Reaksi Pemkab Sragen


SUARA DAERAH SRAGEN – Kesal dan kecewa dilampiaskan dengan aksi "mandi lumpur" yang dilakukan Kepala Desa Ngepringan, Narso, di jalan rusak wilayah Kecamatan Jenar, akhirnya memicu reaksi dari Pemerintah Kabupaten Sragen. Meski aksi tersebut dianggap sebagai bentuk frustrasi seorang pemimpin desa. Pihak Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen segera menerjunkan material untuk perbaikan sementara. 

Camat Jenar, Y. David Supriyadi, mengakui bahwa kondisi jalan menuju SMPN 2 Jenar tersebut memang memprihatinkan dan sering memakan korban, terutama anak sekolah yang tergelincir saat hujan. Menurut David, aksi nekat sang Kades dipicu oleh tekanan sosial yang luar biasa karena rumah Narso berada tepat di lokasi jalan yang rusak" tegasnya 

"Pak Lurah rumahnya di situ, setiap ketemu warga selalu ditanya, 'Pak Lurah, jalan ini bagaimana?'. Akhirnya pusing juga. Sebenarnya pihak desa sudah rutin mengusulkan lewat Musrenbangdes," ujar David.

Namun, David juga memberikan catatan agar perangkat desa tetap berhati-hati dalam beraksi mengingat keterbatasan anggaran daerah. Ia menyebut banyak anggaran yang tergerus untuk keperluan darurat seperti penanganan Covid-19 hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Tahun kemarin DAK cuma ada empat titik, ya harus sabar. Seringkali anggaran kalah dengan refocusing," tambahnya.

Lantas menanggapi tudingan mengenai status "Lelang" yang tak kunjung terealisasi, Kepala Bidang Bina Marga DPU Sragen, Aribowo Sulistyo, memberikan klarifikasi teknis. Dia membenarkan bahwa ruas jalan Bago–Mlale sepanjang 3,83 kilometer tersebut sebenarnya sudah masuk rencana rekonstruksi tahun 2025 dengan anggaran Rp1 miliar.

"Waktu itu kami sudah persiapan lelang melalui APBD Murni 2025, rencananya akan dicor beton. Tapi akhirnya terkena refocusing sehingga dibatalkan (cancel)," ungkap Bowo saat ditemui Rabu (21/1/2026). 

Bowo menjelaskan bahwa dari total panjang jalan tersebut, baru sekitar 1,43 kilometer yang telah dicor pada tahun 2018. Sisanya hingga kini masih berupa jalan bebatuan yang hancur.

Sadar akan urgensi akses pendidikan dan ekonomi yang lumpuh, DPU Sragen menjanjikan langkah darurat. Karena anggaran pemeliharaan jalan se-Kabupaten Sragen tahun 2026 hanya berkisar Rp11 miliar, angka yang tergolong kecil untuk mencakup seluruh kerusakan. Pihaknya hanya bisa melakukan pemeliharaan rutin.

"Untuk penanganan sementara, kami jadwalkan pemeliharaan rutin dengan urukan sirtu (pasir batu). Rencananya paling cepat hari Jumat ini tim akan bergerak," jelas Bowo.

Terkait pembangunan permanen (cor beton), DPU berjanji akan kembali mengusulkan proyek tersebut pada sumber anggaran APBD berikutnya atau melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). 

Jurnalis Wahono
© Copyright 2022 - SUARADAERAH.ID