SUARA DAERAH SRAGEN – Nampak kesal campur kecewa melihat sebuah pemandangan sangat ironis ditambah memprihatinkan di Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Mengenakan Pakaian dinas lengkap, Kepala Desa Ngepringan, Narso, melakukan aksi "mandi lumpur" di tengah kubangan jalan kabupaten yang rusak parah. Bukan sekadar mencari sensasi, aksi ini merupakan puncak gunung es dari kekecewaan warga yang merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Daerah selama puluhan tahun.
Insiden yang terekam kamera warga pada Selasa (20/1/2026) ini bermula saat Narso hendak berangkat menuju kantornya. Alih-alih sampai dengan seragam bersih, ia justru tergelincir di jalan utama Mlale–Ngepringan yang kondisinya lebih mirip aliran sungai penuh lubang.
"Sebenarnya tidak sengaja protes, tapi tadi mau berangkat kerja malah kepleset. Ya sudah, sekalian adus, gebyur sisan (mandi sekalian). Tidak ada rencana, ini spontanitas," ujar Narso dengan nada getir kepada awak media.
Dia mengungkap fakta yang mencengangkan. Akses jalan sepanjang 6 kilometer tersebut diklaim terakhir kali mendapatkan pengaspalan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) sekitar 24 tahun yang lalu. Sejak tahun 2019, kondisi jalan kian memburuk hingga mencapai titik nadir di tahun 2026 ini.
Narso menyoroti inkonsistensi pemerintah terkait anggaran. Ia menyebut sempat ada papan informasi yang menyatakan jalan tersebut dalam proses lelang untuk pembangunan tahun 2025, namun hingga memasuki tahun 2026, janji tersebut menguap begitu saja.
"Oalah mas, sudah bertahun-tahun. Katanya siap dibangun 2025, tapi sampai 2026 boten enten (tidak ada). 2024-2025 tidak dibangun," keluh Narso.
Kritik tajam diarahkan pada dampak kemanusiaan akibat pembiaran infrastruktur ini. Kubangan sedalam lutut orang dewasa menjadi makanan sehari-hari bagi anak sekolah dan warga yang ingin mengakses layanan kesehatan. Anak-anak sekolah terpaksa melepas sepatu dan seragam agar tidak kotor sebelum sampai di kelas.
Selain itu truk logistik kerap tersangkut, bahkan kendaraan kecil sering mengalami kerusakan mesin atau pecah bak oli akibat benturan lubang. Jalan rusak membuat warga merasa terisolasi. Bahkan, sanak saudara dari luar daerah enggan berkunjung karena ngeri melihat akses jalan yang dianggap membahayakan nyawa.
Narso menegaskan bahwa warga Ngepringan tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya menuntut hak dasar atas akses jalan yang layak dan aman. Ia meminta Pemkab Sragen tidak lagi berkelit dengan alasan klasik keterbatasan anggaran.
"Mudah-mudahan segera diperhatikan, tidak perlu bagus banget, yang penting rata, bisa dilewati, tidak becek. Mau aspal atau cor silakan, karena ini sudah parah banget," pungkasnya.
Aksi tersebut juga mendapat tanggapan dari salah satu warga bernama Joko menyampaikan Kini, dengan aksi tersebut keputusan ada di Pemerintah Kabupaten Sragen. Akankah aksi mandi lumpur sang Kades menjadi alarm bagi percepatan pembangunan, atau justru hanya akan menjadi tontonan viral tanpa solusi. "Jalan kui ket biyen mung diukar ukur wae," keluh Joko
Jurnalis Wahono


Social Header