SUARA DAERAH SRAGEN -- Berbicara soal Nasi sambel tumpang hampir di seluruh warung makan di wilayah Kabupaten Sragen menjajakan nasi sambel tumpang seperti kalau di Taman Asri Mbak Mini Tangen dikenal warung Bu Ranto, kalau di Masaran warung makan sambel tumpang Bu Rijem , di Ngepringan Sragen lor ada warung sambel tumpang jos,dan warung makan prapatan spesial yang menyediakan sambel tumpang, yang beberapa kali di kunjungi oleh Bupati Sragen Sigit Pamungkas, wakil bupati H.Suroto , Sekda dr Hariyanto dan pejabat lainya.
KP.Bumimaya Soeseno Renggadipuro .SH.M.Si tokoh budaya ,yang juga Purnawirawan Polisi berpangkat Komisaris Polisi ( Kompol ) menyampaikan bahwa, Pemerintah Kabupaten Sragen akan menggelar Festival Sambel Tumpang Nusantara ( FSTN ) 2026 yang bertujuan ingin mengenalkan sambel tumpang keseluruhan pelosok nusantara bahkan sampai mendunia .
Soeseno menyampaikan bahwa"Nasi tumpang" adalah makanan favorit sehari - hari.
Ratusan bahkan ribuan penjual "nasi tumpang" tersebar dimana mana, jelasnya.
Ia juga menyebutkan di setiap warung makan di Sragen, atau pedagang latengan di pagi hari, pasti menjual menu utama klangenan masyarakat Sragen, yaitu "tumpang."
Cita rasa "tumpang" setiap pedagang tidaklah sama, bahkan berbeda satu dengan lainya.
Mereka punya penggemar masing masing.
Sehingga setiap "penjual tumpang" tak perlu bersaing, karena mereka memiliki pelanggan sendiri sendiri," ungkapnya.
Tak ada istilah "paling enak", karena enak itu relatif dan tidak ada ukuran obyektif yang pasti.
Penggemar "tumpang" pasti akan memilih "tumpang" yang dirasa paling cocok dilidahnya.
"Nasi tumpang" dari pedagang yang berbeda, memiliki kekhasan masing masing, yang menjadi kekuatan untuk menarik pelangganya, jadi tak perlu ada istilah saingan antar pedagang.
Bahkan dilihat dari adat budaya jawa, "nasi tumpang" adalah hidangan yang disajikan secara khusus di acara adat "Siraman" pada rangkaian hajadan pengantin.
Sebagai simbol yg menyatu dengan acara "Siraman."
Siraman / mandi, simbol membersihkan diri, sesuci "lahir batin" bagi pengantin.
Numpang / makan "nasi tumpang."
Numpang bermakna "nindhihi pakarti ala, menginjak / mengubur / menindih perilaku jahat. ( Sesuci )"
Semoga dengan niat baik terselenggaranya "Festival Tumpang Nusantara" menjadi sarana membangun kebersamaan bukan hanya Penjual Tumpang di Sragen, tetapi juga masyarakat keseluruhan.
Kita berbeda, namun satu jua.
"Bhineka Tunggal Ika,Tan hana Dharma Mangrowa" pungkas Pensiunan anggota Polres Sragen Kompol Purn. Soeseno SH.M.Si.
Jurnalis Wahono


Social Header